Minggu, 16 Agustus 2009

HUT KEMERDEKAAN RI KE 64

Setiap 17 Agustus bangsa Indonesia dengan gegap gempita merayakan hari yang begitu istimewa. Sebuah tanggal keramat yang merupakan puncak dari peristiwa paling bersejarah yang ditandai dengan Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Bung Karno atas nama bangsa Indonesia. Ya, Indonesia telah merdeka walaupun Belanda tidak mengakuinya. Perjuangan yang berat untuk mempertahankan kemerdekaan, sebab Belanda masih ingin kembali ke negara yang baru dicetuskan kemerdekaannya itu.

Dengan perjuangan penuh darah dan semangat diplomasi yang tak kenal menyerah, akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Perjuangan yang berat itu belum tuntas 100%. Irian yang merupakan wilayah Belanda harus juga diserahkan kepada Indonesia, tapi tidak pernah terlaksana dengan baik hingga akhirnya dikeluarkan TRIKORA pembebasan Irian Barat.

Melihat rentetan sejarah lahirnya bangsa Indonesia baik sebelum maupun sesudah proklamasi, maka sepantasnya kita merayakan dengan penuh khidmat dan harapan akan sejarah kelanjutan kemerdekaan Indonesia yang lebih baik lagi dimasa depan.

Cara merayakan HUT kemerdekaan RI biasanya dengan lomba-lomba. Panjat pohon pinang seperti menjadi tradisi yang mendarah daging jika dihubungkan dengan perayaan kemerdakaan RI. Juga ada gerak jalan. Berbagai hadiah diberikan dari mie instan sampai barang elektronik. Hadiah ada yang diberikan langsung saat pengumuman pemenang, namun ada juga yang di tunda, biasanya diberikan saat malam tirakatan.

Pada 16 Agustus malam banyak kampung yang melakukan malam tirakatan dengan tujuan mengenang kembali perjuangan para pahlawan yang memang sangat berat itu. Acara tirakan biasa diisi dengan sambutan ketua RT/RW dan dilanjutkan dengan pembacaan Amanat Gubernur oleh Bapak RW. Pekik merdeka tidak pernah ketinggalan pada malam tirakan. Lagu-lagu perjuangan juga menggema. Indonesia Raya yang merupakan lagu wajib tidak pernah ketinggalan atau lupa untuk dinyanyikan. Puncak acara terjadi jam 12 malam. Lampu-lampu dimatikan dan lilin dinyalakan diiringi pembacaan renungan yang merefleksikan perjalanan bangsa ini. Secara bergilir warga maju kedepan mencium bendera kebanggaannya Sang Merah Putih hingga orang terakhir. Acara ditutup dengan doa kepada Allah untuk para pahlawan yang telah mengorbankan harta, darah dan jiwanya untuk bangsa ini. Juga berdoa untuk generasi penerus bangsa agar tetap diberi petunjuk ke arah jalan yang benar. Inilah acara tirakatan yang terkesan sederhana namun penuh pendalaman makna yang merupakan persembahan dari warga kampung kepada negaranya.

DIRGAHAYU BANGSA DAN NEGARAKU...MERDEKA!!!


0 komentar:

Posting Komentar