Rabu, 21 April 2010

ISLAM KU

Memeluk suatu agama biasanya dikarenakan keturunan. Ada juga pindah agama lain (murtad) setelah sebelumnya memeluk agama/kepercayaan orang tuanya. Ada yang menjadi atheis karena orang tuanya atheis atau setelah beragama tidak percaya dengan agama-agama yang ada. (Paham Atheis sebaiknya diabaikan saja sebab tidak mengenal konsep surga sebagai balasan amal baik dan neraka sebagai balasan setimpal atas dosa-dosa manusia)

Saya ingin agar orang beragama bukan karena keturunan, namun benar-benar mendalami bagaimana agama yang dipeluknya benar-benar bisa membawa kepada pemahaman yang benar tentang agamanya itu. Jika beragama didasarkan karena keturunan/warisan, maka muncul pertanyaan, jika orang tua saya beragama A, apakah saya menjadi beragama A? Bagaimana jika orang tua saya beragama B, apakah saya ikut-ikutan beragama B? Yang jelas, ketika masih anak-anak, orang tua kita tentu sudah mengenalkan agamanya kepada anak-anaknya. Nah, berarti mau tidak mau orang tua sudah mewariskan sebuah agama kepada kita. Karena itu beragama yang hanya didasarkan pada keturunan sangat tidak sehat jika terus menerus dipertahankan sampai dewasa tanpa melalui proses perenungan dan pendalaman ilmu agama.

Sebagai seorang Muslim, tentu perenungan itu penting. Kenapa saya menjadi Islam? yang pertama menjadi dasar adalah Rukun Iman dan Rukun Islam. Rukun Iman ini bagi saya merupakan pondasi yang kuat. 1. Beriman kepada Allah, 2. Beriman kepada para Malaikat, 3. Kitab-kitab suci, 4. Beriman kepada para Nabi, 5. Beriman kepada Hari Akhir, 6. Beriman pada Qada' dan Qadar.

Keenam rukun Iman itu menunjukkan Islam bukan agama yang sempit, melainkan agama yang luas cakupannya. Bagaiamana mungkin seorang muslim yang sudah punya Nabi yakni Nabi Muhammad Saw. dipaksa untuk mengakui kenabian umat yang lain? Ajaran ini tidak saya temukan dalam ajaran agama yang lain. Walaupun dalam Islam hanya dikenalkan dua puluh lima nabi, dalam sebuah ayat Tuhan berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ فَإِذَا جَاء أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu'jizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil. (Qs. Al-Mu'min: 78)

Nabi yang tidak diceritakan dalam Quran jauh lebih banyak lagi. Termasuk Zarathustra, Siddhārtha Gautama , Lao Tzu, Konghucu dll. Dari sini jelas Islam tidak meniadakan tokoh-tokoh spritual itu melainkan meneguhkannya bahwa merekapun utusan Tuhan juga. Hal ini menjadi penting ketika para pemeluk agama saling mengatakan bahwa beriman pada tokoh spiritual agama lain akan membawa dosa dan masuk neraka. Islam telah mematahkan sekat-sekat itu dan menyatukan manusia dalam keimanan yang sama.

Manusia itu adalah umat yang satu.(Al-Baqarah: 213)

Senin, 12 April 2010

POTONG TANGAN UNTUK KORUPTOR

Semenjak geger korupsi pajak yang melibatkan pegawai pajak Gayus Tambunan, banyak pihak yang merasa bahwa korupsi di Indonesia sudah sangat akut. Sebab bukan hanya satu orang saja, tapi sudah melebar ke banyak orang dan institusi pemerintahan. Banyak pejabat tinggi di Kepolisian, Kejaksaan, dan Perpajakan yang terlibat kasus korupsi. Sungguh sangat memprihatinkan.

Kasus pajak ini begitu hebat bagai puting beliung ketika Komjen. Susno Duadji mantan Kabareskrim membeberkan adanya Makelar Kasus yang melibatkan oknum di Kepolisan. Maka Gayus adalah orang awal yang di bidik Komjen Susno Duadji. Dan sejak itu kasus ini menerpa siapa saja yang ada dalam lingkaran setan korupsi pajak.

Masalah korupsi tidak akan bisa dihentikan 100% jika para penagak hukum sendiri terlibat korupsi. Hukum yang paling tegas sekalipun (hukuman mati ) tidak akan mampu jika pengadilan telah dikotori suap. Maka untuk memberantas korupsi diperlukan orang-orang yang tidak mudah disuap, tidak korupsi walau sebutir beras, tegas, cerdas dan beriman. Jika hukum sudah dipegang oleh orang-orang seperti itu, barulah peradilan digelar. Para koruptor yang tertangkap ditimbang kesalahannya dan ditentukan hukuman yang adil untuknya. Namun ada satu hal walaupun banyak orang yang setuju termasuk KPK yang menginginkan koruptor dihukum mati, maka saya berpandangan para koruptor jangan dihukum mati! Kenapa? Para koruptor walaupun berdosa telah makan uang rakyat namun mereka kebanyakan orang terpelajar dan berilmu. Uang hasil korupsi bisa jadi digunakan untuk hal-hal positif yang tak terduga seperti menyantuni anak yatim dsb. Maka hukuman maksimal buat para koruptor sebaiknya dipotong tangannya. Apakah sadis? Tidak. Pada zaman dahulu potong tangan memang terlihat sadis, namun pada zaman sekarang sudah tidak lagi sebab tangan yang dipotong tidak menimbulkan rasa sakit karena dibius dahulu. Hukuman ini jauh lebih baik karena tidak menghilangkan nyawa koruptor. Bukankah potong tangan hanya ada dalam ajaran agama? Ya, negara bisa mengadopsi hukum dari ajaran agama untuk dijadikan hukum nasional. Why not?

Adanya usul yang menurut saya cuma guyonan dari Sosiolog Thamrin Amal agar para koruptor membersihkan toilet di mal-mal menurut saya terlalu ringan. Koruptor akan tertawa-tawa.... biar membersihkan toilet uangku dibank miliaran rupiah ha..ha..ha... Lagi pula membersihkan toilet bukan pekerjaan hina.