Saya ingin agar orang beragama bukan karena keturunan, namun benar-benar mendalami bagaimana agama yang dipeluknya benar-benar bisa membawa kepada pemahaman yang benar tentang agamanya itu. Jika beragama didasarkan karena keturunan/warisan, maka muncul pertanyaan, jika orang tua saya beragama A, apakah saya menjadi beragama A? Bagaimana jika orang tua saya beragama B, apakah saya ikut-ikutan beragama B? Yang jelas, ketika masih anak-anak, orang tua kita tentu sudah mengenalkan agamanya kepada anak-anaknya. Nah, berarti mau tidak mau orang tua sudah mewariskan sebuah agama kepada kita. Karena itu beragama yang hanya didasarkan pada keturunan sangat tidak sehat jika terus menerus dipertahankan sampai dewasa tanpa melalui proses perenungan dan pendalaman ilmu agama.
Sebagai seorang Muslim, tentu perenungan itu penting. Kenapa saya menjadi Islam? yang pertama menjadi dasar adalah Rukun Iman dan Rukun Islam. Rukun Iman ini bagi saya merupakan pondasi yang kuat. 1. Beriman kepada Allah, 2. Beriman kepada para Malaikat, 3. Kitab-kitab suci, 4. Beriman kepada para Nabi, 5. Beriman kepada Hari Akhir, 6. Beriman pada Qada' dan Qadar.
Keenam rukun Iman itu menunjukkan Islam bukan agama yang sempit, melainkan agama yang luas cakupannya. Bagaiamana mungkin seorang muslim yang sudah punya Nabi yakni Nabi Muhammad Saw. dipaksa untuk mengakui kenabian umat yang lain? Ajaran ini tidak saya temukan dalam ajaran agama yang lain. Walaupun dalam Islam hanya dikenalkan dua puluh lima nabi, dalam sebuah ayat Tuhan berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ فَإِذَا جَاء أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu'jizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil. (Qs. Al-Mu'min: 78)
Nabi yang tidak diceritakan dalam Quran jauh lebih banyak lagi. Termasuk Zarathustra, Siddhārtha Gautama , Lao Tzu, Konghucu dll. Dari sini jelas Islam tidak meniadakan tokoh-tokoh spritual itu melainkan meneguhkannya bahwa merekapun utusan Tuhan juga. Hal ini menjadi penting ketika para pemeluk agama saling mengatakan bahwa beriman pada tokoh spiritual agama lain akan membawa dosa dan masuk neraka. Islam telah mematahkan sekat-sekat itu dan menyatukan manusia dalam keimanan yang sama.

