Sepertinya tak henti-hentinya Indonesia diguncang aksi terorisme. Targetnya tidak lagi kepentingan asing di Indonesia, tapi juga rakyat sipil. Bom bunuh diri tadinya cuma terjadi di Timut Tengah terutama di Palestina, namun sekarang bom bunuh diri benar-benar ada di depan mata kita. Bahkan pelakunya orang dalam negeri sendiri. Para teroris sebenarnya punya agenda jahat yang dibungkus dengan kedok agama. Terorisme sangat merugikan kita semua. Tatanan hukum dan demokrasi yang menjadi cita-cita kaum muslimin Indonesia akan rusak, kehidupan masyarakat yang damai, rukun dan penuh toleransi kan rusak juga. Belum lagi akan muncul peraturan-peraturan dari pemerintah yang bisa mengekang kebebasan warga negara. Sikap curiga-mencurigai akan tumbuh subur ditengah-tengah masyarakat terhadap orang baru.
Saya berharap para teroris mau melihat Indonesia dengan benar. Indonesia bukanlah negara sekuler yang hanya mementingkan urusan dunia namun juga urusan Akherat. Dalam Preambule UUD45 alinea 3 menegaskan kemerdekaan Indonesia berkat Allah.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.Demikian juga dalam pasal 9 UUD45 Presiden dan Wakilnya sebelum memangku jabatan Presiden dan Wakil harus mengucapkan sumpah yang asma Allah ada didalamnya.
"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa."
Dengan demikian tidak ada alasan bahwa Indonesia adalah Taghut yang harus dimusuhi. Jika alasannya Indonesia bersekutu dengan Amerika Serikat, itupun tidak benar. Indonesia tidak pernah bersekutu dengan Amerika Serikat. Yang ada hubungan kerjasama yang tidak membeda-bedakan antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Bahkan Indonesia turut mendirikan negara NON-BLOK yang tujuannya tidak memihak Blok Soviet (Blok Timur) dan Blok Amerika Serikat (Blok Barat).

Dalam dunia kepahlawanan, kita mengenal salah satu Jihadis yakni Pangeran Diponegoro. Kepalanya dihargai 50.000 Gulden. Berkat semangat yang membara justru Belanda menderita kerugian 15 ribu tentara tewas dan 20 juta Gulden. Dalam perundingan Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang 28 Maret 1830 dan diasingkan di Manado kemudian di benteng Rotterdam Ujung Pandang dan wafat 8 Juni 1855.
Disini bisa dilihat mana yang jihadis sejati dan mana yang hanya menebarkan teror yang korbannya bisa anak-anak, wanita dan kaum muslimin sendiri. Karena itu jauhkan aksi terorisme dari bumi Indonesia.